Laporan kinerja outlet · Mei – Juli 2026

Penjualan bertahan.
Yang bocor itu laba.

Bagian satu

Tiga hal yang perlu Anda tahu

Urut dari yang paling besar dampaknya ke laba. Kalau cuma sempat baca satu bagian, baca yang ini.

Bagian dua

Rapor empat outlet

Diurutkan dari net margin Juli — ukuran seberapa banyak laba yang tersisa dari tiap rupiah penjualan. Ukuran outlet berbeda-beda, jadi persentase lebih adil dipakai membandingkan daripada nilai rupiah.

Bagian tiga

Ke mana arahnya

Omzet dan laba bersih tiap outlet sepanjang tiga bulan. Arahkan kursor ke titik untuk melihat angka persisnya.

Omzet bersih per outlet

Pendapatan setelah potongan penjualan dan retur. Sumbu dalam juta rupiah.

Laba bersih per outlet

Setelah seluruh biaya operasional dan pos non-operasional. Sumbu dalam juta rupiah.

Bagian empat

Dua rasio yang menentukan

Food cost = harga pokok penjualan dibagi pendapatan; makin rendah makin sehat. Net margin = laba bersih dibagi pendapatan. Batang kiri ke kanan: Mei, Juni, Juli.

Food cost

Net margin

Bagian lima

Kenapa naik, kenapa turun

Perubahan laba bersih dipecah jadi empat penyebab: efek volume (omzet berubah pada margin awal), efek margin kotor (food cost berubah), efek biaya operasional, dan pos non-operasional. Batang hijau menambah laba, batang merah menguranginya. Angka dalam juta rupiah.

Bagian enam

Ke mana biaya operasional pergi

Komposisi biaya di luar harga pokok penjualan. Sumbu dalam juta rupiah.

Bagian tujuh

Pembahasan per outlet

Apa yang sebenarnya terjadi di tiap outlet, dan apa yang perlu dikerjakan minggu ini.

Bagian delapan

Data lengkap

Seluruh pos akun apa adanya dari laporan. Kolom terakhir memberi warna hijau bila perubahannya baik untuk laba, merah bila menggerusnya.

Metode dan keterbatasan data
  • Semua angka diambil langsung dari 12 file laporan laba rugi tanpa penyesuaian. Konsistensi sudah dicek: Laba kotor = Pendapatan − HPP, dan Laba bersih = Laba kotor − Biaya operasional + Pos non-operasional — cocok di seluruh 12 laporan dengan selisih Rp0.
  • Data hanya tiga bulan. Tiga titik belum cukup memisahkan tren dari fluktuasi musiman; arah tren sebaiknya dikonfirmasi dengan data Agustus.
  • Laporan tidak memuat jumlah transaksi atau jumlah pelanggan, sehingga perubahan omzet tidak bisa dipecah menjadi "jumlah pembeli" dan "nilai belanja per pembeli". Data POS akan membuat analisa ini jauh lebih tajam.
  • Biaya penyusutan dan beban sewa AJP bersifat non-kas — laba bersih di sini bukan arus kas.
  • Beberapa pos hanya ada di outlet tertentu (Bagi Hasil Investor/Pengelola dan Sewa Parkir di AMG), jadi perbandingan pos biaya antar outlet perlu dibaca dengan konteks itu.